Kamu ingin mengambil wudu, tetapi ingatan tentang kesalahan lama membuat langkah berhenti. Kamu hendak berdoa, lalu muncul pikiran bahwa diri ini tidak pantas meminta apa pun. Keinginan kembali beribadah ada, tetapi rasa malu terasa lebih besar daripada keberanian untuk memulainya.
Perasaan itu bisa muncul setelah lama mengabaikan kewajiban, mengulang kebiasaan yang disesali, atau menyakiti orang lain. Mengakui kesalahan memang tidak selalu mudah. Namun rasa malu yang terus membuat kita menjauh perlu dihadapi agar penyesalan dapat mengantar pada perubahan, bukan hanya menjadi beban yang dipikul sendirian.
Merasa tidak pantas untuk kembali
Penyesalan dapat membantu kita memahami bahwa ada tindakan yang perlu dihentikan. Akan tetapi, menyadari sebuah kesalahan berbeda dari menyimpulkan bahwa seluruh hidup kita tidak mungkin diperbaiki. Kesimpulan terakhir itu dapat membuat seseorang menunda salat dan menjauhi lingkungan baik, padahal ia sedang membutuhkan keduanya.
Kita tidak bisa menghapus kejadian kemarin. Kita bisa memilih respons hari ini: mengakui kesalahan, meninggalkan perbuatan yang salah, dan mencari cara memperbaiki akibatnya. Perubahan dimulai dari tindakan yang tersedia sekarang, meskipun perasaan malu belum sepenuhnya reda.
Jangan kehilangan harapan terhadap rahmat Allah
Dalam QS. Az-Zumar [39]: 53, Allah menyeru hamba yang telah melampaui batas terhadap dirinya. Di dalamnya terdapat penggalan berikut:
Penggalan ayat
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
QS. Az-Zumar [39]: 53
Ringkasan makna: Hamba yang telah melampaui batas diajak untuk tidak kehilangan harapan terhadap rahmat Allah. Penjelasan ini adalah ringkasan makna, bukan kutipan terjemahan resmi.
Pesan tersebut memberi arah ketika kita merasa terlalu jauh untuk kembali. Besarnya kesalahan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk berhenti memohon ampun dan memperbaiki diri. Kita perlu merawat harapan sambil tetap memandang dosa sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh harus ditinggalkan.
Harapan yang mendorong kita untuk bertaubat
Ayat tadi perlu dibaca bersama QS. Az-Zumar [39]: 54, yang mengajak kembali kepada Allah dan tunduk kepada-Nya. QS. At-Tahrim [66]: 8 juga mengajak orang beriman untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Hubungan ayat-ayat ini mengingatkan bahwa harapan akan pengampunan berjalan bersama kesediaan untuk berubah. Beristigfar tidak menjadi izin meneruskan kesalahan dengan sengaja. Kita memohon rahmat Allah sekaligus berusaha meninggalkan jalan yang membawa kita pada dosa.
Dalam penjelasan fikih tentang taubat, seseorang perlu meninggalkan dosa, menyesalinya, dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Jika perbuatan itu menyangkut hak orang lain, ada tanggung jawab memperbaiki atau mengembalikan hak tersebut. Rincian ini dapat dipelajari dari penjelasan Islamweb tentang taubat setelah berbuat dosa.
Pelajaran dari hadis tentang taubat
Anas bin Malik meriwayatkan hadis sahih dalam Sahih Muslim no. 2747a. Rasulullah ﷺ menggambarkan besarnya kegembiraan Allah atas taubat hamba melalui sebuah perumpamaan.
Ringkasan makna hadis: Seseorang kehilangan hewan tunggangannya di tempat tandus, sementara makanan dan minumannya berada pada hewan itu. Setelah hampir kehilangan harapan, ia menemukan hewan tersebut kembali dan sangat gembira. Riwayat ini menggambarkan kegembiraan Allah atas taubat hamba yang kembali kepada-Nya lebih besar daripada kegembiraan orang tersebut.
Perumpamaan ini menguatkan harapan untuk benar-benar kembali. Tidak perlu menambahkan dialog atau kejadian rekaan untuk membuatnya terasa dekat. Pesannya sudah membantu kita menghadapi rasa malu: ajakan bertaubat memiliki tempat bagi orang yang mengakui kesalahan dan ingin meninggalkannya.
Mulai memperbaiki diri hari ini
Langkah berikut merupakan saran praktis penulis. Sesuaikan dengan keadaanmu sambil tetap belajar tentang kewajiban dan ketentuan agama dari sumber yang tepercaya.
- Hentikan dosa yang sedang dilakukan. Perhatikan jalan yang membuatnya berulang, seperti akses tertentu, kebiasaan saat sendirian, atau lingkungan yang terus mendorong perbuatan itu.
- Mohon ampun dengan jujur. Akui kesalahan kepada Allah dan kuatkan tekad untuk meninggalkannya. Kamu tidak perlu membuka seluruh aib kepada banyak orang agar penyesalanmu terasa nyata.
- Kembali menunaikan kewajiban. Ambil wudu dan kerjakan salat wajib yang waktunya tiba. Jadikan langkah ini awal untuk menjaga seluruh salat wajib dan kewajiban lainnya.
- Cari lingkungan yang membantu. Teman belajar dan pembimbing yang menjaga kehormatanmu dapat membantu menjalani perubahan dengan lebih terarah.
- Siapkan langkah saat godaan datang. Tentukan siapa yang bisa dihubungi dan kegiatan apa yang dapat mengalihkanmu dari kebiasaan lama. Jangan hanya mengandalkan niat tanpa mengubah keadaan pemicunya.
Perbaiki juga hubungan dengan sesama
Jika ada utang, susun cara melunasinya. Jika ada harta atau hak yang diambil, cari jalan untuk mengembalikannya. Memohon ampun kepada Allah tidak menghapus tanggung jawab atas hak manusia. Perbaikan mungkin membutuhkan waktu, tetapi langkahnya dapat mulai disusun sekarang.
Untuk persoalan yang rumit, mintalah bimbingan orang berilmu agar penyelesaiannya sesuai dan tidak menambah mudarat. Jika kembali tergelincir, hentikan kesalahan dan perbarui taubat dengan kesungguhan. Periksa pemicu yang belum ditangani, tanpa memakai kegagalan sebagai alasan meninggalkan seluruh ibadah.
Kembali tanpa menunggu merasa sempurna
Kita tidak dapat memberi kepastian tentang diterimanya taubat individu tertentu. Tugas kita adalah menempuh taubat dengan sungguh-sungguh, memperbaiki tanggung jawab, dan terus berharap kepada rahmat Allah. Mulailah dengan kewajiban yang ada di depanmu.
Jika rasa malu membuat doa terasa sulit, baca juga tentang menjaga harapan saat berdoa. Kamu dapat memulai hari ini, bahkan ketika keberanianmu masih kecil dan masa lalu masih terasa berat.
Video pendamping
Video yang disertakan untuk ditonton.
