Setelah mengirim lamaran pekerjaan, kita bisa berkali-kali memeriksa email meskipun belum ada kabar baru. Saat membangun usaha, satu hari penjualan menurun dapat membuat pikiran melompat ke banyak kemungkinan. Kita ingin memastikan bahwa seluruh persiapan akan berakhir dengan hasil yang baik. Sayangnya, tidak semua bagian hidup berada di tangan kita.
Di tengah ketidakpastian itu, nasihat untuk bertawakal sering terdengar. Namun bagaimana menjalaninya? Apakah kita harus terus mencoba atau berhenti merencanakan? Tawakal dapat dipelajari melalui hubungan antara usaha yang bermanfaat, permohonan pertolongan Allah, dan sikap kita terhadap hasil yang sudah terjadi.
Ketika kita ingin mengendalikan semua hasil
Kita bertanggung jawab atas persiapan dan keputusan yang kita ambil. Tetapi pilihan perusahaan, kondisi pasar, dan respons anggota keluarga tidak dapat sepenuhnya dikendalikan. Membebani diri untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana dapat membuat setiap hambatan terasa seperti kegagalan pribadi.
Sebagai latihan praktis, bedakan bagian yang bisa diusahakan dan bagian yang berada di luar kendali. Pelamar bisa memperbaiki kemampuan dan mengirim lamaran yang jujur. Pedagang bisa menjaga mutu dan pelayanan. Keduanya tetap menghadapi faktor yang tidak bisa diatur hanya dengan menambah tenaga.
Memahami tawakal kepada Allah
Dalam QS. At-Talaq [65]: 3, Allah berfirman dalam penggalan berikut:
Penggalan ayat
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
QS. At-Talaq [65]: 3
Ringkasan makna: Allah mencukupi orang yang bertawakal kepada-Nya. Ayat ini juga menegaskan bahwa Allah melaksanakan kehendak-Nya dan menetapkan ukuran bagi segala sesuatu. Ini ringkasan makna, bukan kutipan terjemahan resmi.
Ayat tersebut berada dalam rangkaian pembahasan hukum keluarga dan takwa. Pesan tentang bersandar kepada Allah perlu dipahami dengan tetap menghormati konteksnya. Kecukupan yang disebutkan tidak dapat disederhanakan menjadi janji bahwa setiap orang yang bertawakal pasti segera kaya atau terbebas dari semua kesulitan.
Tawakal mengajak kita menyandarkan kepercayaan kepada Allah ketika menjalankan tanggung jawab. Rencana tetap dibuat dengan pertimbangan yang baik. Doa menyertai usaha, dan hati dilatih mengakui bahwa hasil akhir tidak dapat ditentukan sepenuhnya oleh keinginan kita.
Rasulullah ﷺ mengajarkan usaha dan meminta pertolongan
Abu Hurairah meriwayatkan hadis sahih dalam Sahih Muslim no. 2664. Salah satu penggalannya berbunyi:
Penggalan hadis
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ
HR. Muslim no. 2664; perawi Abu Hurairah
Ringkasan makna: Rasulullah ﷺ mendorong usaha untuk hal yang bermanfaat, memohon bantuan Allah, dan tidak menyerah pada kelemahan. Riwayat ini juga membimbing sikap ketika suatu kejadian telah menimpa seseorang agar tidak tenggelam dalam penyesalan terhadap takdir.
Hubungan usaha dan permohonan pertolongan tampak jelas di sini. Mengambil langkah yang baik dapat berjalan bersama ketergantungan kepada Allah. Meminta bantuan orang yang memahami masalah juga dapat menjadi sarana usaha; kita tidak perlu menyebutnya sebagai tanda kurang tawakal.
Contoh tawakal dalam kehidupan
Ketika mencari pekerjaan
Siapkan CV yang menjelaskan kemampuanmu dengan jujur. Pilih lowongan yang sesuai, pelajari kebutuhan perusahaan, dan berlatih wawancara. Berdoalah agar diberi pekerjaan yang baik. Jika lamaran ditolak, kamu boleh kecewa, kemudian mencari masukan tentang hal yang bisa ditingkatkan.
Jangan menggantungkan seluruh penilaian terhadap diri pada keputusan satu perusahaan. Kamu bisa mencoba peluang lain atau menambah keterampilan yang dibutuhkan. Usaha tetap ditempuh melalui cara yang halal, tanpa memalsukan pengalaman demi mengejar hasil.
Ketika membangun usaha
Pelajari kebutuhan pelanggan, hitung biaya, dan uji produk dalam skala yang mampu ditanggung. Perbaiki pelayanan dan tentukan batas kerugian yang masuk akal. Jika penjualan turun, periksa harga, mutu, dan cara menawarkan produk sebelum memutuskan langkah berikutnya.
Mengubah strategi, mengecilkan skala, atau menutup usaha yang terus merugi dapat menjadi pilihan yang bertanggung jawab. Tawakal tidak memberi kepastian bahwa omzet akan meningkat. Kamu tetap dapat memohon pertolongan Allah saat harus mengambil keputusan yang berat.
Ketika menghadapi masalah keluarga
Kamu dapat memilih waktu berbicara, mendengarkan, mengakui kesalahanmu, dan mencari penengah yang aman. Namun respons orang lain tetap menjadi pilihan mereka. Batas yang melindungi diri dan keluarga perlu dijaga. Bila ada ancaman atau kekerasan, utamakan keselamatan dan cari pertolongan yang relevan.
Saat hasil belum sesuai rencana
Evaluasi yang bermanfaat berbeda dari terus menyalahkan diri atas kejadian yang telah berlalu. Evaluasi menanyakan apa yang dapat diperbaiki untuk langkah berikutnya. Penyesalan yang berputar-putar membuat kita terus mengulang kemungkinan masa lalu tanpa menemukan tindakan yang membantu.
Berikut latihan praktis penulis: tuliskan fakta yang terjadi, hal yang bisa dipelajari, dan satu perubahan untuk percobaan berikutnya. Mintalah masukan bila diperlukan. Akui hasil yang sudah terjadi sambil tetap membuka ruang untuk usaha baru yang lebih tepat.
Satu usaha konkret, disertai doa
Pilih satu tindakan hari ini: mengirim lamaran yang sesuai, menanyakan pengalaman pelanggan, atau mengatur percakapan keluarga. Lalu berdoalah memohon pertolongan dan petunjuk Allah. Tidak semua kecemasan akan langsung hilang, tetapi tanggung jawabmu dapat mulai dikerjakan.
Ketika penantian terasa panjang, baca juga tentang menjaga harapan dalam doa dan menghadapi kesedihan dengan sabar. Jalani usaha dengan kesungguhan, dan berlatihlah menerima bahwa hasilnya tidak seluruhnya berada dalam kendalimu.
Video pendamping
Video yang disertakan untuk ditonton.
