Kamu membuka media sosial untuk beristirahat sebentar. Seorang teman mengunggah rumah baru, teman lain mendapat promosi, dan seseorang yang dulu merintis usaha bersama kini terlihat jauh lebih maju. Setelah layar ditutup, pekerjaan sendiri terasa tertinggal dan rumah yang tadi cukup nyaman mendadak tampak kurang.
Perbandingan juga bisa menyentuh penghasilan, pernikahan, atau kebersamaan keluarga. Kita ikut senang melihat kabar baik, tetapi ada bagian hati yang terasa nyeri. Perasaan itu perlu dikenali dengan jujur agar kita dapat memilih respons yang baik, tanpa buru-buru memberi label buruk pada seluruh diri.
Ketika satu unggahan membuat kita merasa tertinggal
Unggahan menunjukkan bagian hidup yang dipilih untuk dibagikan. Kita mungkin mengetahui pencapaian seseorang, tetapi tidak mengetahui seluruh biaya, dukungan, atau kesulitan yang menyertainya. Ini tidak berarti semua tampilan media sosial palsu. Artinya, informasi yang kita lihat sering belum cukup untuk membandingkan dua kehidupan secara utuh.
Konteks kita juga berbeda. Ada yang memulai dengan tabungan, ada yang menanggung kebutuhan keluarga, dan ada yang sedang menghadapi keadaan yang belum bisa diceritakan. Memahami perbedaan itu membantu kita menilai langkah sendiri dengan lebih adil.
Kenali perasaan dan arah keinginannya
Merasa tertinggal, ingin memperbaiki penghasilan, dan berharap nikmat orang lain hilang adalah arah yang berbeda. Keinginan meningkatkan kehidupan dapat diterjemahkan menjadi usaha yang baik. Perasaan tidak nyaman pun tidak otomatis berarti seseorang sudah melakukan semua bentuk kedengkian.
Namun ketika keinginan bergerak menuju hilangnya nikmat orang lain, kita perlu mengoreksinya. Dalam Sahih Muslim no. 2564a, Abu Hurairah meriwayatkan larangan Rasulullah ﷺ untuk saling mendengki. Hadis sahih ini juga memuat pengingat untuk tidak menzalimi dan merendahkan sesama.
Sebagai penerapan, kita dapat menjaga tindakan saat perasaan iri muncul: jangan menyebarkan cerita untuk menjatuhkan orang, meremehkan hasil usahanya, atau menulis komentar yang menyakiti. Perasaan yang belum reda tetap bisa dihadapi dengan pilihan tindakan yang lebih bertanggung jawab.
Memohon karunia Allah untuk diri sendiri
QS. An-Nisa [4]: 32 mengarahkan perhatian kita kepada karunia Allah. Di dalamnya terdapat penggalan berikut:
Penggalan ayat
وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ
QS. An-Nisa [4]: 32
Ringkasan makna: Ayat membimbing agar tidak mengingini kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian orang atas sebagian yang lain, serta agar memohon karunia-Nya. Ini ringkasan makna, bukan kutipan terjemahan resmi.
Arah ini membantu kita berpindah dari sibuk menghitung milik orang lain menuju doa dan tanggung jawab sendiri. Kita boleh memiliki cita-cita yang baik, meningkatkan keterampilan, atau mengusahakan rumah yang lebih layak. Ayat ini juga tidak menjadi alasan untuk melarang seseorang menuntut haknya secara adil.
Belajar melihat nikmat yang sudah ada
Abu Hurairah meriwayatkan hadis sahih dalam Sahih Muslim no. 2963c. Ringkasan maknanya: Rasulullah ﷺ membimbing agar melihat orang yang kondisinya berada di bawah kita, sehingga kita lebih terjaga dari meremehkan nikmat Allah.
Dalam pembahasan nikmat dunia, bimbingan ini mengingatkan bahwa sesuatu yang dianggap biasa bisa menjadi hal yang sangat dibutuhkan orang lain. Makanan hari ini, tempat beristirahat, dan orang yang bersedia mendengar memiliki nilai yang mudah terlupakan ketika perhatian hanya tertuju pada pencapaian yang lebih besar.
Kondisi orang lain perlu dipandang dengan hormat. Kesulitan mereka bukan bahan untuk merasa lebih tinggi, membuat tontonan, atau mengabaikan penderitaan. Mengingat nikmat dapat berjalan bersama empati dan kesediaan menolong sesuai kemampuan.
Langkah saat perbandingan mulai mengganggu
Berikut beberapa latihan praktis penulis. Membatasi media sosial atau mencatat nikmat bukan perintah literal dari hadis tadi dan bukan ritual dengan keutamaan khusus.
- Namai perasaanmu. Akui bahwa kamu sedang iri, takut tertinggal, atau merasa tidak dihargai. Tanyakan kebutuhan apa yang berada di baliknya sebelum membuat keputusan impulsif.
- Kurangi pemicu yang berulang. Bisukan akun tertentu atau atur waktu membuka aplikasi. Kamu dapat menjaga perhatian tanpa membenci orang yang membagikan pencapaiannya.
- Berdoa tanpa menginginkan kehilangan orang lain. Mohon karunia Allah untuk dirimu dan kebaikan bagi mereka. Arahkan keinginan pada kehidupan yang lebih baik melalui cara yang halal.
- Catat nikmat yang sering dianggap biasa. Pilih hal yang konkret, lalu pikirkan cara merawatnya. Tidak ada jumlah catatan yang harus dipenuhi untuk mendapat janji hasil tertentu.
- Ubah kebutuhan menjadi rencana. Jika masalahnya penghasilan, periksa keterampilan, peluang, dan pengeluaran. Pilih satu perubahan yang sesuai keadaanmu, bukan sekadar meniru jadwal orang lain.
- Ukur perkembangan dari usahamu sendiri. Bandingkan kebiasaan dan kemampuanmu dengan keadaan sebelumnya. Tentukan target yang realistis tanpa mengabaikan tanggung jawab keluarga.
Satu nikmat dan satu usaha hari ini
Rasa iri mungkin kembali muncul. Itu kesempatan untuk mengulang latihan mengenali perasaan dan menjaga tindakan, bukan alasan menyimpulkan bahwa kamu sama sekali tidak bersyukur. Syukur juga tidak mengharuskanmu menerima perlakuan tidak adil atau berhenti memperbaiki keadaan.
Hari ini, pilih satu nikmat yang ingin kamu rawat dan satu usaha yang ingin kamu perbaiki. Kamu dapat membaca tentang usaha dan tawakal untuk melanjutkan langkah itu. Beri hidupmu ruang untuk bertumbuh melalui keadaanmu sendiri.
Video pendamping
Video yang disertakan untuk ditonton.
